Jakarta, 11 September 2026 – Jakarta Jazz Goes to Campus (JGTC) terus memperkuat posisinya sebagai salah satu festival jazz yang mendorong perkembangan musik jazz di Indonesia. Memasuki perjalanan menuju penyelenggaraan ke-50, JGTC berkomitmen mempertahankan semangat awal festival sekaligus menghadirkan ruang yang lebih luas bagi musisi muda, komunitas, dan publik untuk mengenal jazz.
Tahun ini, nuansa jazz hadir hampir di seluruh lini penampil JGTC dengan menghadirkan beragam warna dan pendekatan dalam musik jazz. Perpaduan tersebut menjadi bagian dari upaya JGTC untuk terus berkembang dan tetap relevan bagi lintas generasi.
Andra mengatakan bahwa keberagaman jazz menjadi salah satu elemen penting dalam perjalanan JGTC ke depan. Ia berharap festival ini dapat terus berkembang hingga mencapai usia 50 tahun dengan tetap mempertahankan konsep dan semangat yang sejak awal dibangun oleh para pendiri JGTC, Pramono dan Candra.
Semangat regenerasi juga menjadi perhatian utama JGTC. Chico menilai bahwa keberlangsungan festival tidak hanya bergantung pada kehadiran nama-nama besar, tetapi juga pada keterlibatan komunitas serta munculnya musisi-musisi baru.
Menurutnya, anggapan bahwa jazz merupakan musik untuk kalangan tertentu atau generasi yang lebih tua perlu terus diubah. Jazz juga memiliki tempat di kalangan anak muda, terutama ketika festival mampu memberikan ruang bagi mereka untuk terlibat dan menemukan pengalaman baru melalui musik.

Keterlibatan komunitas menjadi salah satu faktor yang membedakan JGTC dari festival musik lainnya. Dengan membuka ruang bagi berbagai komunitas, JGTC ingin membangun ekosistem yang tidak hanya berpusat pada pertunjukan, tetapi juga mempertemukan musisi, penikmat musik, dan berbagai kelompok kreatif.
Sementara itu, Candra menjelaskan bahwa sejak awal JGTC memiliki tujuan untuk “membumikan jazz”. Jazz selama ini kerap diasosiasikan dengan pertunjukan di hotel-hotel mewah dan hanya dapat dinikmati oleh kelompok tertentu. Melalui JGTC, musik jazz dibawa ke ruang yang lebih dekat dengan masyarakat.
Selain menjadi festival musik, JGTC juga berupaya menjadi ruang kaderisasi bagi musisi jazz baru. Salah satu bentuknya diwujudkan melalui band competition yang memberikan kesempatan kepada musisi muda untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mendapatkan pengalaman tampil di panggung festival.
Upaya memperluas akses terhadap jazz juga akan dikembangkan melalui konsep “Jakarta the Capital of Jazz”. Program tersebut direncanakan berlangsung di lima wilayah Jakarta, termasuk Kepulauan Seribu, dengan tujuan membawa musik jazz ke lebih banyak ruang dan masyarakat di berbagai penjuru ibu kota.
Ke depan, penyelenggara berharap konsep tersebut dapat terus dikembangkan. Bahkan, penyelenggaraan JGTC ke-50 pada tahun mendatang diharapkan dapat berkolaborasi dengan rangkaian perayaan 500 tahun Jakarta, sekaligus menjadi momentum untuk merayakan perjalanan panjang JGTC dan perkembangan kota Jakarta.

Pramono turut mendorong agar penyelenggaraan JGTC di lima wilayah Jakarta dapat direalisasikan. Menurutnya, perluasan tersebut dapat menjadi cara untuk membawa kembali semangat awal JGTC sekaligus memperkenalkan festival kepada audiens yang lebih luas.
Ia juga melihat bahwa JGTC memiliki peran yang berbeda dibandingkan masa-masa awal penyelenggaraannya. Jika pada era Orde Baru ruang untuk menyuarakan isu sosial melalui festival musik memiliki keterbatasan, JGTC saat ini dinilai dapat menjadi medium bagi musisi dan masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan sosial.
Selain memperluas penyelenggaraan ke berbagai wilayah, JGTC juga mendorong adanya kegiatan di kawasan Kampus Salemba. Gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk mengenang kembali masa-masa awal perkembangan JGTC sekaligus memperkuat hubungan festival dengan akar sejarahnya di lingkungan kampus.
Dengan menggabungkan regenerasi musisi, keterlibatan komunitas, perluasan ruang pertunjukan, serta semangat untuk menjadikan jazz lebih dekat dengan masyarakat, JGTC berupaya menjaga relevansinya di tengah perkembangan industri musik.
Menjelang usia ke-50, JGTC tidak hanya ingin merayakan perjalanan panjangnya, tetapi juga membangun fondasi bagi generasi berikutnya. Jazz diharapkan tidak lagi dipandang sebagai musik untuk kelompok tertentu, melainkan sebagai bagian dari ekosistem budaya Jakarta yang dapat dinikmati dan dikembangkan oleh siapa saja.
