
Agung Prasetyo Teguh Wahono (@agngprsy)
Daraloka, program Community Development yang digagas oleh mahasiswa konsentrasi Marketing Communication LSPR Communication & Business Institute, sukses menyelenggarakan acara puncaknya bertajuk Asa Dara di Tamananda Lifestyle Park, Cilandak. Mengusung tema “Beyond the Stigma: How Indonesian Culture Shapes Women’s Wounds”, acara ini menjadi wadah edukasi sekaligus ruang diskusi mengenai kesehatan hormonal perempuan, khususnya Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), serta berbagai stigma sosial dan budaya yang masih melekat pada perempuan di Indonesia.
Rangkaian acara dibuka dengan sesi PMOS Yoga, yang bertujuan mengajak peserta memulai hari dengan aktivitas yang mendukung kesehatan fisik dan mental. Setelah itu, Daraloka menggelar konferensi pers bersama dosen pembimbing dari LSPR Communication & Business Institute, Founder Komunitas Kata Nona, Ketua Daraloka, serta sejumlah media partner untuk memperkenalkan kampanye dan tujuan utama program tersebut.
Salah satu daya tarik utama dalam acara ini adalah Dara Bersuara, sebuah pameran interaktif yang mengangkat kisah para penyintas PMOS serta berbagai bentuk tekanan sosial dan stigma yang mereka alami. Melalui instalasi visual, pengalaman audio yang difasilitasi oleh Love Line, Message of Love, hingga Interactive Wall, pengunjung diajak memahami pengalaman perempuan dengan PMOS secara lebih mendalam. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi dengan lebih dari 10 seniman lokal yang bersama-sama menghadirkan ruang aman untuk berbagi cerita sekaligus membangun empati terhadap isu kesehatan hormonal perempuan.

Shdiqi Syaamil Henggajaya (@henggajaya)
Agung Prasetyo Teguh Wahono (@agngprsy)
Edukasi mengenai PMOS juga diperkuat melalui talkshow bertajuk “Menjadi Perempuan”. Diskusi ini menghadirkan dr. Mahatmasara Adhiwasa, Sp.OG, psikolog RA Oriza Sativa, S.Psi., Psi., CH., CCR, Prily Soetiman, serta Founder Komunitas Kata Nona, Aya Canina, dengan Hapsa Arafa sebagai moderator. Para narasumber membahas bagaimana tekanan sosial, budaya, dan ekspektasi masyarakat memengaruhi kehidupan perempuan, termasuk mereka yang hidup dengan PMOS.
Tak hanya menghadirkan sesi diskusi, Daraloka juga mengajak peserta mengikuti dua workshop kreatif bersama Flora Craftee. Dalam sesi “Rangkai Rupa Diri: Bracelet Charm”, peserta membuat gelang sebagai simbol dukungan dari orang-orang terdekat. Sementara pada workshop “Rangkai Rupa Diri: Flower Arrangement”, peserta diajak merangkai bunga sebagai bentuk refleksi, penerimaan diri, dan praktik self-love.

Shdiqi Syaamil Henggajaya (@henggajaya)
Agung Prasetyo Teguh Wahono (@agngprsy)
Suasana acara semakin hangat saat memasuki penutupan melalui Karaoke Night bertema “No Sad Songs”. Dalam sesi ini, peserta saling memberikan kartu bertuliskan “You Made Someone’s Night Better” sebagai bentuk apresiasi dan dukungan satu sama lain. Acara kemudian ditutup dengan penampilan dari DJ Tithanauli.
Dosen pengampu mata kuliah Community Development, Melvin Bonardo Simanjuntak, M.I.Kom, menyebut Daraloka menjadi implementasi nyata dari teori dan konsep komunikasi pemasaran yang dipelajari mahasiswa. Menurutnya, kampanye ini berhasil menggabungkan aktivasi luring dan daring dengan melibatkan berbagai mitra untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai PMOS, kesetaraan, serta nilai-nilai inklusivitas.
Founder Komunitas Kata Nona, Aya Canina, juga menilai bahwa membicarakan PMOS secara terbuka merupakan bentuk keberpihakan terhadap perempuan. Ia berharap kolaborasi seperti ini dapat membuka ruang yang lebih luas bagi berbagai komunitas untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan hormonal perempuan.
Apresiasi juga datang dari Tamananda Lifestyle Park. Melalui perwakilannya, Ovie Noviarani, pihak pengelola menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Tamananda sebagai lokasi penyelenggaraan Asa Dara. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus mendukung kegiatan yang mendorong kreativitas, inovasi, dan dampak positif bagi masyarakat.
Melalui penyelenggaraan Asa Dara, Daraloka berharap semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya kesehatan hormonal perempuan, mengenal lebih jauh tentang PMOS, serta ikut menciptakan lingkungan yang lebih suportif, inklusif, dan bebas dari stigma.

Shdiqi Syaamil Henggajaya (@henggajaya)
Agung Prasetyo Teguh Wahono (@agngprsy)