Indonesia Net-Zero Summit 2026 Soroti Pentingnya Aksi Nyata Hadapi Krisis Iklim

Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) kembali menggelar Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 di Balai Kartini, Jakarta. Mengusung tema “It’s Time to Deliver!”, konferensi ini mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengubah komitmen iklim menjadi aksi nyata di tengah tantangan geopolitik dan ekonomi global.

Penyelenggaraan tahun ini diikuti hampir 10.000 peserta, melibatkan lebih dari 130 mitra, serta menghadirkan sekitar 60 pembicara dari berbagai sektor. INZS menjadi ruang diskusi bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan generasi muda untuk membahas langkah konkret dalam mempercepat transisi menuju target emisi nol bersih (net-zero).

Tema “It’s Time to Deliver!” menyoroti bahwa agenda transisi energi dan pengendalian perubahan iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai target jangka panjang yang dapat ditunda. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, upaya menuju net-zero dinilai semakin penting untuk memperkuat ketahanan energi, meningkatkan daya saing ekonomi, sekaligus menjaga keamanan nasional.

Dalam pidato pembukaannya, Pendiri FPCI, Dr. Dino Patti Djalal, menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan isu yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga stabilitas politik dan keamanan.

Menurutnya, krisis iklim seharusnya menjadi prioritas utama dunia. Ia mengingatkan bahwa kegagalan mengatasi perubahan iklim akan berdampak pada berbagai sektor lain, sementara kenaikan suhu global hingga tiga derajat Celsius akan membawa konsekuensi yang sulit dipulihkan. Dino juga menekankan bahwa kesempatan untuk mencegah dampak yang lebih besar semakin sempit dan membutuhkan tindakan nyata sebelum 2030.

Urgensi tersebut, lanjutnya, semakin meningkat di tengah memanasnya tensi geopolitik, fragmentasi tatanan global, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan energi. Kondisi tersebut dinilai memperlebar kesenjangan antara komitmen iklim dan implementasinya, terutama dalam aspek pendanaan, transfer teknologi, serta jalur transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Pada kesempatan yang sama, Retno Marsudi, UN Secretary-General’s Special Envoy on Water, menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya air dalam mewujudkan target net-zero. Menurutnya, ketahanan air merupakan fondasi utama bagi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, sehingga upaya pengurangan emisi tidak dapat dipisahkan dari perlindungan ekosistem air.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) RI, Moh. Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa transisi menuju net-zero tidak seharusnya dipandang sebagai beban pembangunan. Sebaliknya, agenda tersebut merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi, meningkatkan daya saing ekonomi, serta menjaga keberlanjutan lingkungan.

Ia menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah saat ini bertumpu pada tiga pilar utama, yakni mitigasi, adaptasi, dan kesejahteraan (prosperity). Ketiga aspek tersebut dinilai harus berjalan secara beriringan agar transisi hijau tidak hanya mampu menurunkan emisi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

Jumhur juga memaparkan sejumlah prioritas yang perlu didorong bersama, mulai dari memperkuat tata kelola lingkungan, mempercepat transformasi menuju ekonomi rendah karbon tanpa melampaui daya dukung ekologi, meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim, memastikan manfaat transisi hijau dirasakan masyarakat, hingga memperluas kemitraan dalam implementasi berbagai program iklim.

Ia menegaskan bahwa tema “It’s Time to Deliver!” merupakan ajakan untuk menghasilkan dampak yang nyata, baik melalui penurunan emisi yang terukur, perlindungan masyarakat dari risiko iklim, maupun penciptaan kesejahteraan melalui pembangunan ekonomi hijau.

Setelah rangkaian diskusi yang berlangsung sepanjang hari, Indonesia Net-Zero Summit 2026 ditutup dengan penampilan penyanyi Teddy Adhitya melalui kampanye “No Music on A Dead Planet”. Inisiatif tersebut memanfaatkan musik sebagai medium untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap isu perubahan iklim dan pelestarian lingkungan.

Melalui penyelenggaraan INZS 2026, FPCI berharap kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi krisis iklim semakin diperkuat. Lewat FPCI Climate Unit, organisasi tersebut berkomitmen untuk terus mengawal perkembangan isu iklim di Indonesia, mendorong lahirnya kebijakan yang lebih konkret, serta mendukung upaya Indonesia dalam mencapai target emisi nol bersih di masa mendatang.