Pada tanggal 3 Mei setiap tahunnya, seluruh insan jurnalistik di seluruh dunia merayakan Hari Kebebasan Pers Sedunia atau World Press Freedom Day. Pada tahun 1993, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan perayaan ini sebagai suatu deklarasi untuk menghargai kebebasan pers.
Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, berbicara melalui sebuah video pada hari yang sama dengan peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia, mengenai urgensi jurnalisme dalam menghadapi ancaman yang mengintai demokrasi. Hal itu tidak lama langsung dikritik warganet dan mulai menguak hipokrisinya.
“Orang yang telah mengadili banyak jurnalis dan whistleblower, ingin memberikan ceramah kepada kita tentang pentingnya kebebasan pers.” ujar Sarah, Komentator geopolitik independen dari Lebanon.
Kemudian, Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan ikut menyorakan “kebebasan media” di Russia karena negara yang dipimpin Putin itu terkenal sebagai negara yang minim kebebasan pers. Tak lama, Kementrian Luar Negeri Rusia [MFA Russia] membalasnya dengan memberikan sebuah foto sosok Julian Assange.
Julian Assange adalah pendiri sekaligus editor dan juru bicara WikiLeaks, sebuah situs media yang mempublikasikan berbagai dokumen dan informasi rahasia berbagai negara di dunia. Akibat tindakannya, Assange diincar oleh Inggris karena tuduhan pelanggaran hukum terkait membocorkan dokumen-dokumen rahasia yang berpotensi merugikan kepentingan negara.

Leave a comment