Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, “hampir mati” setelah terjebak dalam serangan udara Israel di Bandara Sanaa, Yaman. Tedros merasa “sangat terbuka” dan “tanpa perlindungan” saat serangan terjadi, yang menewaskan sedikitnya enam orang. Pada saat itu, dia dan staf PBB lainnya sedang meninggalkan Yaman setelah melakukan perjalanan untuk merundingkan pembebasan tahanan PBB dan menilai situasi kemanusiaan.
Meskipun keberadaannya di bandara sudah diketahui sebelumnya, Tedros menegaskan bahwa setiap nyawa manusia, termasuk miliknya, bernilai sama dan tidak seharusnya fasilitas sipil seperti bandara diserang. Serangan itu dilakukan oleh militer Israel yang mengklaim menyerang target militer Houthi yang didukung Iran.
Kelompok Houthi yang menguasai wilayah Yaman sejak 2015 menyebut serangan ini sebagai “barbarik” dan berjanji akan terus menyerang Israel sampai konflik di Gaza dihentikan. Selain serangan di bandara, serangan Israel juga menargetkan stasiun listrik dan pelabuhan di Yaman, dengan beberapa korban tewas dan luka, meskipun identitas korban apakah warga sipil atau pemberontak Houthi belum jelas.
