Prof Yoel Elizur, psikolog yang tangani kekejaman di militer: “Ketika anda meninggalkan Israel & mulai memasuki Gaza, anda adalah tuhan”

Retorika kebencian yang disebarkan oleh pemerintah Israel semakin memperburuk situasi mental para tentara IDF, menciptakan lingkungan yang merusak kode etik militer dan meningkatkan risiko kekejaman serta cedera moral. Para tentara yang terlibat dalam kejahatan perang sering kali merasa bersalah dan cemas, bahkan banyak dari mereka yang akhirnya mengalami trauma psikologis yang parah. 

Tentara yang melakukan kekejaman sering kali merasa diberi kekuatan mutlak ketika memasuki Gaza, memandang diri mereka sebagai “Tuhan,” yang menjadikan tindakan brutal sebagai tanda kekuatan dan maskulinitas. Dalam perang ini, sebagian besar tentara IDF terpecah menjadi beberapa kelompok berdasarkan kepribadian dan pengaruh. 

Beberapa kelompok, seperti yang acuh tak acuh atau ideologis, melakukan kekejaman tanpa penyesalan, sementara kelompok lainnya yang menentang tindakan tersebut sering terpinggirkan atau dipaksa untuk mengikuti norma brutal. Retorika pemerintah yang penuh kebencian memperburuk masalah ini, menyebabkan para tentara yang ingin menjaga moralitas mereka menjadi korban sosial. 

Akibatnya, kejahatan perang yang dilakukan oleh sebagian tentara semakin meningkat, sementara upaya untuk menegakkan hukum dan keadilan semakin terabaikan.