World Health Organization (WHO) melalui International Agency for Research on Cancer (IARC) tengah bersiap untuk mengeluarkan pengumuman terbaru terkait aspartam, pemanis buatan yang diduga memicu kanker.
Selain itu, The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) juga akan melakukan pembaruan evaluasi risiko terhadap aspartam.
Dilansir dari Liputan 6, langkah ini melibatkan ulasan ulang terhadap batasan asupan harian yang dianggap aman dan evaluasi paparan aspartam melalui konsumsi makanan.
Sejak era 1980-an, aspartam telah menjadi pilihan pemanis buatan yang populer. Bahan pemanis yang tidak memberikan kontribusi nutrisi ini, sering digunakan dalam minuman rendah kalori seperti soda diet, produk makanan siap saji, dan juga permen karet.
Tidak hanya itu, aspartam juga telah digunakan dalam proses pembuatan gelatin, es krim, sereal, dan bahkan dalam produk farmasi seperti obat batuk, serta item lainnya termasuk pasta gigi.
Sejak tahun 1981, Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) telah secara kontinu mengevaluasi keamanan penggunaan aspartam dalam minuman rendah kalori dan produk lainnya.
JECFA, yang merupakan program penilaian risiko untuk zat aditif dan kontaminan dalam makanan, telah menetapkan batas asupan harian yang dapat diterima sebesar 40 mg/kg berat badan per hari.
Dalam rangka mengidentifikasi bahaya karsinogenik baru-baru ini, Advisory Group to Recommend Priorities for the IARC Monographs merekomendasikan prioritas evaluasi aspartam selama periode 2020-2024. Hal ini terkait dengan tujuan IARC Monographs untuk mengidentifikasi potensi bahaya kanker dari bahan tertentu.
Aspartam juga telah menjadi fokus penilaian risiko oleh JECFA, yang dilakukan secara terpisah. Penilaian risiko ini termasuk tinjauan ulang terhadap batas asupan harian yang dapat diterima serta penilaian paparan makanan terhadap aspartam.
Evaluasi oleh ARC Monographs Working Group terhadap potensi karsinogenik aspartam telah dilakukan pada tanggal 6-13 Juni 2023.
Sementara itu, JECFA telah melakukan penilaian risiko pada periode 27 Juni hingga 6 Juli 2023. Proses ini mencakup ulasan mendalam terhadap asupan harian yang aman dan dampak paparan aspartam melalui konsumsi makanan.
Melalui kolaborasi erat antara IARC Monographs Programme Secretariat dan WHO/JECFA Secretariat, serangkaian evaluasi komprehensif telah dilakukan. Ini bertujuan untuk menggambarkan efek kesehatan yang terkait dengan aspartam berdasarkan bukti-bukti terbaru yang ada.
Penting untuk memahami bahwa IARC berfokus pada mengidentifikasi bahaya potensial yang dapat membahayakan manusia, sementara JECFA lebih berkonsentrasi pada penilaian risiko yang dapat timbul dari bahaya tersebut.
Hasil dari kedua penilaian ini akan diumumkan bersama oleh IARC dan JECFA pada tanggal 14 Juli 2023, membentuk satu kesatuan informasi yang saling melengkapi.

Leave a comment