Jakarta resmi menduduki posisi pertama sebagai kota dengan udara terburuk di dunia, media asing: kota beracun

Kualitas udara di Jakarta, Indonesia, sekali lagi telah dikategorikan sebagai ‘tidak sehat’. Berdasarkan Air Quality Index (AQI), pada Kamis (10/8/2023), Jakarta menempati peringkat teratas sebagai kota dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia.

Dilaporkan oleh CNBC, media internasional juga mengarahkan perhatian mereka pada Indonesia dan menggambarkan Jakarta sebagai kota dengan tingkat polusi yang “paling beracun”.

Sorotan dari laporan berita ini terfokus pada permasalahan polusi udara yang tengah dihadapi ibu kota negara tersebut. Sejak bulan Mei, Jakarta secara konsisten menduduki peringkat teratas dalam daftar sepuluh kota dengan paparan polusi udara paling tinggi.

“Ibu kota Jakarta menduduki puncak daftar sebagai kota paling berpolusi di dunia, Rabu,” muat media Singapura Channel News Asia (CNA) dan juga Reuters, dikutip Kamis (10/8/2023).

“Secara konsisten menempati peringkat di antara 10 kota paling terkontaminasi secara global pada Mei,” muat media itu mengutip data perusahaan teknologi kualitas udara Swiss, IQAir.

Sebuah komentar dari seorang penduduk juga diberikan, di mana ia mengungkapkan kekhawatirannya akan perburukan situasi ini dan dampak yang dapat membahayakan kesehatan dirinya serta keluarganya.

“Saya pikir situasinya sangat mengkhawatirkan. Begitu banyak anak yang sakit dengan keluhan dan gejala yang sama seperti batuk dan pilek,” ujar salah satu warga Jakarta bernama Rizky, 35.

Dijelaskan bahwa warga Jakarta telah lama mengalami keluhan terkait ‘udara beracun’ akibat kemacetan lalu lintas yang parah, emisi asap dari sektor industri, dan keberadaan pembangkit listrik tenaga batu bara.

Pada tahun 2021, telah terjadi gugatan perdata yang berhasil dimenangkan oleh penduduk, yang menuntut pemerintah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah polusi udara.

“Pengadilan memerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus menetapkan standar kualitas udara nasional untuk melindungi kesehatan manusia sementara Menteri Kesehatan dan Gubernur Jakarta harus menyusun strategi untuk mengendalikan polusi udara,” muat media itu lagi.

Pendapat dari organisasi lingkungan juga turut diungkapkan, menggambarkan bagaimana warga Jakarta harus menghadapi udara yang tercemar setiap hari.

“Kita menghirup lebih dari 20.000 napas sehari. Jika kita menghirup udara kotor setiap hari, (dapat menyebabkan) penyakit pernapasan dan paru-paru, bahkan asma. Ini dapat memengaruhi perkembangan kognitif anak atau bahkan kesehatan mental,” ujar Nathan Roestandy, salah satu pendiri aplikasi kualitas udara Nafas Indonesia.

Sementara itu, Presiden Jokowi kembali menyebut rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Nusantara, yang saat ini tengah dalam tahap pembangunan di pulau Kalimantan.

Indonesia berencana untuk menetapkan Nusantara sebagai ibu kota baru pada tahun depan, di mana sedikitnya 16.000 pegawai negeri sipil (PNS), anggota TNI, dan Polri akan direlokasi ke sana.

Leave a comment