Kerusuhan di Prancis Makin Meluas, Presiden Macron Salahkan Video Game dan Peran Asuh Orang Tua

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyalahkan permainan video dan platform media sosial sebagai pemicu kerusuhan di negaranya. Prancis mengalami serangkaian demonstrasi selama empat hari berturut-turut sebagai protes atas pembunuhan seorang remaja keturunan Aljazair berusia 17 tahun, Nahel M, oleh polisi.

Pembunuhan Nahel diduga terkait dengan faktor etnis. Hal ini didasarkan pada kesaksian para saksi di lokasi kejadian yang menyatakan bahwa Nahel dibunuh karena latar belakang etnisnya sebagai orang Arab.

Hingga saat ini, kepolisian Prancis telah menangkap hampir 1.000 orang terkait demonstrasi yang berujung kerusuhan di berbagai kota. Mayoritas dari mereka adalah remaja.

Dalam sebuah konferensi pers pada Jumat [30/6] malam, Macron menyatakan bahwa sekitar sepertiga dari mereka yang ditangkap adalah generasi muda, bahkan sangat muda. Ia mengungkapkan bahwa internet memiliki pengaruh negatif pada anak-anak dan remaja.

“Platform (media sosial) dan jaringan memainkan peran penting dalam peristiwa-peristiwa beberapa hari terakhir. Kami telah menyaksikan situs seperti Snapchat, TikTok, dan beberapa lainnya, menjadi tempat terjadinya kekerasan, tetapi juga ada bentuk peniruan kekerasan yang menyebabkan sebagian generasi muda kehilangan kontak dengan dunia nyata,” ungkapnya, seperti yang dikutip dari RT.

Menurut Macron, generasi muda turun ke jalan untuk merealisasikan aksi-aksi yang mereka lihat dalam permainan video yang membuat mereka terpengaruh. Oleh karena itu, ia meminta para orang tua untuk menjaga anak-anak mereka di rumah.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, mengingatkan platform media sosial untuk tidak menjadi penyebab terjadinya seruan kekerasan atau konten yang memperbesar kerusuhan. Ia bertekad untuk mengambil tindakan yang diperlukan terhadap platform atau pihak mana pun yang tidak mematuhi hukum.

Kerusuhan pertama kali meletus pada malam Selasa (27/6/2023) di pinggiran Nanterre, Paris, setelah seorang polisi menembak mati Nahel yang sedang bekerja sebagai pengantar pizza. Nahel diberhentikan oleh polisi atas tuduhan pelanggaran. Petugas yang membunuh Nahel telah ditahan dan didakwa atas tindakan pembunuhan setelah ibu korban menyerukan adanya tindakan balas dendam.

Leave a comment