TikTok dilaporkan telah memantau pengguna yang menonton konten yang berkaitan dengan komunitas LGBT, menurut seorang mantan moderator aplikasi tersebut.
Seorang mantan moderator TikTok, yang bekerja dengan perusahaan penyalur tenaga kerja Cognizant di India, mengatakan kepada surat kabar Inggris The Guardian bahwa ia pernah diminta untuk memarkir pengguna yang terlihat “berbeda” atau “menggelikan” dalam konteks seksualitas atau gender.
“Saya harus memarkir mereka, membatasi akun mereka, sehingga tidak ada yang melihat konten mereka,” kata mantan moderator yang tidak disebutkan namanya itu kepada surat kabar tersebut.
The Guardian melaporkan bahwa pengakuan tersebut didukung oleh dokumentasi internal TikTok, yang menunjukkan bahwa moderator TikTok di India diberikan daftar kata kunci yang akan digunakan untuk memantau video yang menampilkan “homoseksualitas” dan “lesbianisme”.
Seorang juru bicara TikTok mengatakan kepada The Guardian bahwa “kebijakan TikTok tidak memperbolehkan diskriminasi terhadap komunitas LGBTQ+”, dan menambahkan bahwa perusahaan tersebut sedang mengkaji kembali praktik moderasi dan kerja sama dengan Cognizant.
TikTok sebelumnya telah dituduh menghapus konten LGBT dan mempromosikan standar kecantikan yang tidak realistis di platformnya.
The Guardian melaporkan bahwa praktik pemantauan tersebut juga telah terjadi di platform lain, termasuk aplikasi pertemanan Blued yang populer di Tiongkok.
Perusahaan teknologi besar seperti Apple, Facebook, dan Google telah menjadi target kritik karena kebijakan moderasi mereka yang diskriminatif terhadap komunitas LGBT. Beberapa pengguna dan aktivis telah menyerukan perusahaan-perusahaan tersebut untuk meningkatkan transparansi dan menghentikan praktik diskriminatif tersebut.

Leave a comment